Pembatalan Pelepasan Lampion Pada Dieng Culture Festival

Pembatalan Pelepasan Lampion Pada Dieng Culture Festival

Pembatalan pelepasan lampion pada Dieng Culture Festival harusnya telah terlaksana dari beberapa tahun lalu dan tidak boleh dibiarkan begitu saja. Semenjak ia pertama kali digelar tahun 2013, event menerbangkan lampion ke langit telah menjadi sebuah tradisi tersendiri yang menjadi daya tarik para pemain tembak ikan untuk melakukan permainan Joker123 pada situs judi slot online & casino tersebut.

Berkedok festival budaya, acara besar-besaran yang diselenggarakan pada Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah ini selalu sukses menyedot turis lokal maupun asing dari berbagai macam negara. Pada mulanya, seluruh pengunjung wajib mengikuti jalannya upacara sakral berupa aksi potong rambut massal bagi anak-anak penduduk asli Dieng yang memiliki model gimbal..

Pembatalan Pelepasan Lampion Pada Dieng Culture Festival

Namun bukan itu yang mereka cari, melainkan rentetan pesta meriah setelahnya, apalagi kalau bukan menyaksikan momen melepas lampion di sana. Selain bisa menjadi ajang pamer di Instagram maupun sosmed lainnya, pastinya muda-mudi akan menjadikan ini waktu paling ideal untuk bermesraan serta memadu kasih tanpa memedulikan dampaknya terhadap lingkungan.

Acara akan semakin ramai tatkala beribu-ribu lampion terbang bersamaan menuju gelapnya angkasa malam diikuti dengan sorak sorai pengunjung. Naif sekali, mengingat panitia acara begitu tidak daftar agen slot terbaru dan memutarkan lagu kebangsaan seperti Tanah Airku sepanjang sesi pelepasan lampion ini, padahal mereka dengan sengaja mengotori venue dan berpeluang menciptakan bahaya besar nantinya.

Pembatalan Pelepasan Lampion Mengurangi Resiko Kecelakaan Udara

Pucuk dicinta ulam pun tiba, manakala tepat keesokan hari pasca Dieng Culture Festival selesai digelar, melalui akun resmi Instagramnya pihak panitia Ibcbet menyampaikan sebuah pengumuman. Mereka menyatakan permohonan maaf karena mulai tahun 2020 sudah ketok palu akan terjadinya pembatalan pelepasan lampion pada event tersebut hingga seterusnya.

Sedari awal gagasan DCF dibuat, sesi acara menerbangkan lampion sudah menimbulkan polemik serta membuat ricuh netizen. Sebagai Ketua Panitia DCF, Alif Fauzi berkilah bahwasanya agenda pelepasan lampion sejalan dengan nilai luhur pada bidang pariwisata yaitu something to see, do, and buy.

Pembatalan Pelepasan Lampion Mengurangi Resiko Kecelakaan Udara

Para turis asing maupun lokal pastinya akan dimanjakan dengan sejumlah pemandangan menarik, kemudian tertarik untuk berpartisipasi. Ujung-ujungnya, pasti mereka pun akan terdorong untuk berbelanja, yaitu sesuatu yang menjadi tujuan utama dari pelaksanaan Dieng Culture Festival setiap tahunnya.

Berkelit seperti apapun, nyatanya acara ini telah berulang kali mendapat peringatan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau KLHK. Pada tahun 2019, secara resmi pihak KLHK memutuskan untuk mengambil langkah tegas dan memberikan ultimatum keras apabila tahun depan masih ngotot melepaskan lampion ke udara.

KLHK menjabarkan beberapa poin yang mereka anggap berbahaya, yaitu meningkatkan resiko kebakaran hutan sehingga berdampak pada kerusakan serta pencemaran lingkungan yang masih asri. Limbah berupa sampah juga akan mengotori sekitar wilayah venue setidaknya hingga tiga hari ke depan setelah acara berakhir.

Berpotensi Menimbulkan Polusi Darat, Laut, dan Udara

Acara Dieng Culture Festival memang sudah semestinya mengadakan pembatalan pelepasan lampion karena berpotensi menimbulkan polusi di tiga alam. Barusan para pembaca situs http://www.scotland2008.org/ telah mengetahui adanya kemungkinan rusaknya lingkungan mewakili polusi daratan.

Selanjutnya, lampion yang terbang tanpa kendali bisa saja tertiup angin dan akhirnya akan berlabuh di tengah laut sehingga merusak ekosistem di sana nantinya. Bukan hanya sebatas itu, melainkan populasi lampion yang jumlahnya mencapai ribuan dapat menghalangi penglihatan pilot yang mengemudikan pesawat sehingga beresiko menimbulkan kecelakaan di kemudian hari.

Pembatalan Pelepasan Lampion Karena Berpotensi Menimbulkan Polusi Darat, Laut, dan Udara

Alif terus saja membantah bahwa pihaknya telah berkonsultasi terlebih dahulu dengan AirNav yang menyatakan bahwa lampion sangat aman untuk penerbangan pesawat. Alif juga mengaku telah menyiapkan sejumlah petugas pemadam kebakaran sebagai langkah antisipasi selama lampion berhamburan terbang ke udara menuruni bukit Dieng yang dingin.

Ia pun melanjutkan pembelaan dirinya, bahwa lampion biasanya selalu mati kehabisan bahan bakar dan akan turun kembali dalam tempo satu menit. Bagaimanapun juga, langkah yang mereka ambil yaitu mematuhi pemerintah dengan menghilangkan acara seperti pelepasan lampion patut kita apresiasi agar tidak terjadi kecemburuan sosial terhadap penyelenggara festival balon udara terbesar di dunia dan akhirnya memancing keributan esok hari.

No Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *